Keamanan jaringan menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan sistem digital dalam operasional perusahaan. Berbagai ancaman keamanan jaringan dapat mengganggu layanan, mencuri data, hingga menyebabkan kerugian finansial. Karena itu, perusahaan perlu memahami jenis serangan yang umum terjadi dan mengetahui cara mendeteksinya sejak awal.
Malware merupakan perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk merusak sistem, mencuri informasi, atau mendapatkan akses tanpa izin. Malware dapat masuk melalui file, aplikasi, website, maupun perangkat yang telah terinfeksi, kemudian menyebar ke perangkat lain dalam jaringan.
Ransomware mengenkripsi file atau sistem korban sehingga tidak dapat digunakan. Pelaku kemudian meminta tebusan untuk memulihkan akses. Serangan ini dapat menghambat operasional perusahaan, terutama ketika sistem atau data penting tidak dapat diakses.
Phishing biasanya dilakukan dengan menyamarkan email, website, atau pesan sebagai sumber terpercaya untuk mencuri kredensial pengguna. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendapatkan akses ke aplikasi, akun, maupun jaringan perusahaan.
Setelah berhasil masuk ke jaringan, penyerang dapat berpindah dari satu perangkat ke perangkat lain untuk mencari sistem atau data yang lebih penting. Aktivitas ini disebut lateral movement dan dapat berlangsung tanpa langsung menimbulkan gangguan yang terlihat.
Command and Control (C2) merupakan komunikasi antara perangkat yang telah terinfeksi dengan server yang dikendalikan penyerang. Melalui koneksi ini, penyerang dapat mengirim instruksi, mengunduh malware tambahan, atau mengumpulkan informasi dari perangkat korban.
Tidak semua ancaman keamanan jaringan berasal dari luar perusahaan. Insider threat dapat terjadi ketika karyawan atau pengguna internal menyalahgunakan aksesnya, baik secara sengaja maupun karena akun mereka telah dikompromikan.
DDoS (Distributed Denial of Service) dilakukan dengan membanjiri server atau layanan menggunakan traffic dalam jumlah besar. Akibatnya, layanan dapat menjadi lambat atau tidak tersedia sehingga mengganggu aktivitas bisnis.
DNS tunneling memanfaatkan protokol DNS sebagai media untuk menyembunyikan komunikasi atau memindahkan data. Karena DNS merupakan traffic yang umum digunakan, aktivitas berbahaya di dalamnya dapat lebih sulit dibedakan dari traffic normal.
Data exfiltration adalah proses mengambil dan mengirimkan data dari jaringan perusahaan tanpa izin. Penyerang dapat mencuri informasi pelanggan, dokumen bisnis, kredensial, maupun data sensitif lainnya.
Zero-day attack mengeksploitasi kerentanan yang belum diketahui atau belum memiliki patch keamanan. Jenis serangan ini menjadi tantangan karena sistem mungkin belum memiliki perlindungan khusus terhadap celah yang dieksploitasi.
Menghadapi berbagai ancaman keamanan jaringan membutuhkan visibilitas terhadap aktivitas dan traffic di dalam lingkungan IT. Monitoring saja terkadang tidak cukup untuk menemukan pola serangan yang tersembunyi.
Sangfor NDR dapat membantu perusahaan memantau aktivitas jaringan dan mengidentifikasi pola traffic yang mencurigakan. Solusi ini dapat melengkapi perlindungan dari Sangfor NGAF sebagai network security dan Sangfor Endpoint Secure untuk perlindungan endpoint.
Tertarik menggunakan solusi dari Sangfor? AMT IT Solutions dapat membantu Anda menyediakan kebutuhan terkait solusi Sangfor. Untuk konsultasi dan informasi selengkapnya, hubungi marketing@amt-it.com atau klik ikon WhatsApp.
Contact us