Pendekatan Enterprise Risk Management (ERM) konvensional seperti evaluasi risiko secara berkala, atau penggunaan sistem yang terpisah-pisah sudah tidak lagi cukup untuk menghadapi risiko yang muncul secara cepat dan saling terhubung. Untuk itu, perlu adanya pemahaman mengenai tren ERM terkini agar memenuhi kebutuhan penanganan risiko di perusahaan.
Artificial intelligence (AI) kini mulai menjadi bagian penting dalam manajemen risiko perusahaan. Inovasi ini memiliki beberapa potensi besar untuk membantu perusahaan. Seperti melakukan identifikasi risiko secara real-time, analisis prediktif berdasarkan data historis, hingga pemantauan risiko di berbagai sistem secara otomatis. Untuk tren ERM kedepannya, perusahaan diperkirakan akan mulai menggunakan agentic AI, yaitu sistem AI yang mampu memantau risiko secara mandiri, memberikan peringatan, dan merekomendasikan langkah mitigasi.
Perubahan regulasi membuat para eksekutif perlu menghadapi tanggung jawab yang lebih besar atas kegagalan manajemen risiko. Contohnya seperti aturan cybersecurity disclosure dari SEC mewajibkan perusahaan publik melaporkan insiden keamanan siber yang signifikan dalam waktu empat hari kerja.
Dalam laporan tersebut, para eksekutif harus secara langsung menyatakan bahwa informasi yang disampaikan akurat. Oleh karena itu, para pemimpin risiko perlu memastikan dokumentasi yang jelas, sistem audit yang transparan, serta perlindungan hukum.
Banyak perusahaan yang masih mengelola risiko menggunakan berbagai sistem yang tidak terintegrasi. Sehingga menyebabkan data tersebar dan sulit dianalisis secara menyeluruh.
Saat ini, banyak perusahaan yang beralih ke platform GRC terintegrasi yang memungkinkan visibilitas risiko secara menyeluruh. Sehingga mampu meningkatkan efisiensi dan membantu membuat keputusan yang lebih cepat berbasis data.
Otomatisasi kepatuhan menjadi tren ERM saat ini dikarenakan pendekatan kepatuhan manual sudah sulit untuk dilakukan. Seperti kondisi perusahaan yang harus mematuhi berbagai regulasi secara bersamaan, termasuk aturan perlindungan data, keamanan siber, hingga pelaporan ESG. Teknologi otomatisasi sendiri dapat membantu memantau perubahan regulasi, menilai dampaknya terhadap perusahaan, serta memperbarui kebijakan internal secara otomatis.
Ketergantungan pada vendor, mitra bisnis, dan penyedia layanan teknologi membuat third-party risk menjadi salah satu risiko terbesar bagi perusahaan, terutama bagi keamanan data perusahaan.
Pendekatan lama yang hanya mengandalkan evaluasi vendor secara berkala tidak lagi cukup. Banyak perusahaan kini mulai menggunakan sistem pemantauan risiko pihak ketiga secara berkelanjutan yang memanfaatkan data real-time untuk menilai tingkat risiko vendor.
Tren ERM (Enterprise Risk Management) menunjukkan pergeseran dari pendekatan reaktif ke manajemen risiko yang lebih proaktif, berbasis data, dan didukung teknologi AI. Untuk menghadapi lingkungan bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan platform GRC terintegrasi yang mampu memberikan visibilitas risiko secara menyeluruh.
Melalui solusi seperti Diligent One Platform dari Diligent, perusahaan dapat mengintegrasikan proses GRC sehingga pengelolaan risiko menjadi lebih efektif dan responsif. Tertarik menggunakan solusi dari Diligent? Hubungi AMT IT Solutions sebagai Diligent Official Partner melalui marketing@amt-it.com atau klik ikon WhatsApp.
Contact us